Jujur saja, kalau kita lagi naik mobil di tikungan Sitinjau Lauik, kita sudah siap mental menghadapi adu nyali sama truk-truk besar. Jalanan memang menantang, tapi jangan sampai adrenalina kita malah naik karena pemandangan tak terduga.
Kita bicara tentang rombongan konvoi pejabat yang tiba-tiba ‘rehat’ di titik paling genting. Bukan sekadar istirahat sejenak, tapi mampir untuk sesi foto aesthetic di tengah jalur yang seharusnya dijaga ketat. Bayangkan, di tikungan yang kalau kelamaan mikir bisa ngebut, malah malah disuruh pose di depan kamera. Sungguh masterpiece manajemen bahaya. 😂
Dipandu Sirene dan Strobo Dadakan
Yang membuat kejadian ini makin bikin kita geleng-geleng kepala adalah pengawalannya. Kalau sudah kelihatan mobil patwal datang dengan dentuman sirene dan kedipan strobo ‘tot tot wuk wuk’, kita sudah otomatis mikir, “Wah, ada acara penting nih.”
Ironisnya, semua gemerlap ala kedatangan VVIP itu malah membayangi momen yang seharusnya diisi dengan peringatan bahaya lalu lintas. Padahal, mereka malah milih spot yang paling nggak disarankan oleh buku panduan keselamatan berkendara manapun. Jadi, bukan hanya bahaya fisik yang ada, tapi juga bahaya sense of reality kita.
Ketika Tugas Mengawal Berubah Jadi Photo Booth Pribadi
Ketika rombongan ini akhirnya turun—seperti adegan drama Korea yang terlalu panjang—dan berfoto ria di tengah tikungan curam, rasanya ingin menanyakan, “Mohon maaf, Bu/Pak? Ini zona pit stop atau zona selfie?”
Meskipun fakta mengatakan bahwa mereka memang berhenti untuk foto-foto, tapi prosesnya itu sendiri sudah jadi sorotan tajam. Bukan cuma soal berhenti di tempat berbahaya, tapi juga soal protokol pengawalan yang ikut disorot.
Trauma Strobo dan Sikap Aman
Ini membawa kita pada isu yang lebih besar: penggunaan strobo dan sirene. Beberapa waktu terakhir ini, penggunaan ornamen kedatangan ala film aksi sepertinya jadi kebiasaan baru yang sulit dikontrol. Padahal, kita semua sudah tahu, gemerlap strobo dan deru sirene itu harusnya dipakai untuk situasi darurat yang beneran genting.
Banyak ahli keselamatan berkendara mengingatkan, fokus utama petugas di lapangan itu bukan cuma mengawal. Tugas utamanya adalah mengingatkan dan melakukan tindakan penyelamatan, bukan cuma memastikan para pejabat sampai dengan selamat sambil berpose.
Jadi, kalau sudah tahu spot itu berbahaya, yang seharusnya dilakukan adalah edukasi keras. Kenapa tidak dijadikan momen untuk mengingatkan warga, “Guys, ini tikungan rawan, tolong hati-hati,” alih-alih menjadikan momen itu ajang peragaan fashion di sudut berbahaya? 🤷♀️
Pada akhirnya, insiden seperti ini mengajarkan kita satu hal: Keamanan publik itu bukan urusan lip service atau sekadar pemandangan viral. Itu tanggung jawab bersama, dari pengemudi yang hati-hati, sampai petugas yang menjalankan tugas dengan sense dan prioritas yang benar.